Guruh Gipsy (bahkan) dibajak di Jerman

Kaset Guruh Gipsy yang dirilis secara independen tahun 1977

Kaset Guruh Gipsy yang dirilis secara independen tahun 1977

Piringan Hitam Guruh Gipsy yang dirilis ulang tanpa izin oleh Shadoks label asal Jerman tahun 2006 (foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Guruh Gipsy yang dirilis ulang tanpa izin oleh Shadoks label asal Jerman tahun 2006 (foto Denny Sakrie)

Sepenggal syair yang ditulis Guruh Sukarno Putra dalam lagu Geger Gelgel yang beratmosfer rock etnik (Bali) dengan durasi 12 menit 16 detik itu terdapat dalam album Guruh Gipsy.

Dulu di Gelgel pernah geger, namun tak segeger hatiku
Hasrat hati ingin membeber, segala perilaku palsu
Degup jantung irama batel, bagai derap pasukan Gelgel
Sepenggal syair yang ditulis Guruh Sukarno Putra dalam lagu Geger Gelgel yang beratmosfer rock etnik (Bali) dengan durasi 12 menit 16 detik itu terdapat dalam album Guruh Gipsy. Sebuah eksperimen yang dianggap musykil saat itu ketika Guruh berkolaborasi dengan grup rock Menteng, Gipsy, yang didukung oleh Abadi Soesman (synthesizer), Chrisye (bas, vokal), Keenan Nasution (drum, vokal), Odink Nasution (gitar elektrik), dan Roni Harahap (piano, keyboard).

Bayangkan, proyek idealis ini mencoba memempelaikan dua kutub musik yang berbeda, yaitu musik Barat dengan idiom rock dan musik etnik yang diwakili musik tradisional Bali. Bisa disebut proyek Guruh Gipsy ini memang terlambat. Sebab, dalam waktu yang hampir bersamaan, seorang pemusik Jerman, Eberhard Schoener, telah pula merilis album Bali Agung yang menyertakan pemusik karawitan Bali, Anak Agung Mantra. Bahkan jauh sebelumnya sudah ada Colin McPhee, pemusik Kanada yang menggarap komposisi dengan pengaruh musik Bali, dari Tabuh-tabuhan (1937) hingga Concerto for Two Pianos and Large Orchestra Using Bali, Jazz and McPhee Elements (1949).

Toh, Guruh Gipsy yang cenderung memihak ke genre rock tidak kehilangan pikat. Bahkan bisa dianggap perkawinan elemen rock dan gamelan Bali ini berjodoh. Terutama karena perangai dua kutub musik berbeda bangsa ini sama-sama memiliki karakter rebel. Riak gamelan Bali, selain terasa eksotis, menyimpan sesuatu yang eksplosif–meledak-ledak–tak berbeda jauh dengan karakter musik rock yang agresif penuh letupan. Maka kita pun menyimak lengkingan Minimoog synthesizer yang berpadu dengan derap gamelan menggelegak dalam Barong Gundah, sebuah karya instrumental yang bermuatan nuansa gelap. Atau raungan gitar elektrik yang distorsif berpadu dengan tabuhan gamelan yang menderu dalam Geger Gelgel.

Gipsy, sebuah grup rock yang kala itu banyak menyerap pengaruh dari sederet grup rock progresif seperti ELP, Yes, King Crimson, Greenslades, dan Genesis, memang banyak memberi aksentuasi dari pemilihan bunyi-bunyian synthesis yang kaya warna (terutama diambil dari Mellotron dan Minimoog synthesizer). Bunyi-bunyian yang tendensius ini lalu bersenyawa dengan lirik yang berindikasi kritik sosial dan semakin memperlihatkan bentuk ke arah mana sebetulnya misi musik Guruh Gipsy.

Metafora Guruh memang banyak bermetafora dalam penyampaian lirik-liriknya. Dari menggunakan sosok komposer klasik Polandia Fryderyk Franciszek Chopin untuk mengungkap konteks infiltrasi budaya asing hingga mengambil latar Kerajaan Gelgel di Bali untuk mengungkap perihal negara kita yang kerap diliputi kepalsuan. Ingat, di pertengahan era 1970-an, isu penyalahgunaan wewenang, korupsi, dan sejenisnya tengah merebak.

Ketika melihat sampul album Guruh Gipsy saja kita sudah bisa menduga apa yang hendak disampaikan Guruh dan Gipsy. Pada sampul muka terdapat kaligrafi “Dasabayu” yang terdiri atas 10 aksara Bali yang masing-masing mewakili makna: I-A (kejadian, keadaan), A-Ka-Sa (kesendirian, kekosongan), Ma-Ra (baru), La-Wa (kebenaran), dan Ya-Ung (sejati). Menurut Guruh Sukarno Putra sebagai penggagas konsep, aksara Bali tersebut apabila dipadukan akan menyimpulkan sebuah makna, yaitu kebenaran sejati akan menyongsong dan bermuasal dari keadaan yang kosong dan kesendirian. Di sampul Guruh Gipsy juga tertoreh sebuah kalimat: “Kesepakatan dalam Kepekatan”. Dalam suasana yang pekat, lima anak muda tersebut sepakat mengeluarkan pendapat lewat jalur musik. Salah satunya dari lagu Janger 1897 Saka.

Musik Guruh Gipsy yang cenderung rumit memang agak sulit dicerna. Saat itu tak sedikit yang menilai terobosan musikal yang dilakukan terlalu melompat ke depan. Berpuluh-puluh tahun kemudian, barulah banyak eksplorasi yang dilakukan oleh pemusik negeri ini mengacu pada apa yang telah dicapai Guruh Gipsy. Contohnya adalah eksplorasi musik yang dilakukan oleh grup rock progresif Discus di awal tahun 2000, yang antara lain juga menyerap unsur musik tradisional Bali dan menyilangkannya dengan karakter rock. Bahkan, dalam penampilannya di “Baja Prog” (2000) di Meksiko, Discus juga menyertakan I Gusti Kompyang Raka, pemusik Bali yang pernah mendukung album Guruh Gipsy dengan perangkat gamelan Balinya.

Menariknya, beberapa waktu lalu album Guruh Gipsy diputar dan dibahas oleh sebuah radio di Antwerpen, Belgia, Radio Centraal, dalam acara Psyche van het folk. Feddo Renier, seorang kolektor yang meminati karya-karya pemusik Indonesia, juga memutar album Guruh Gipsy dalam sebuah radio show di Internet bertajuk Psychedelicatessen”. Tetsu Nagata, seorang peminat musik Indonesia di Jepang, juga me-review album Guruh Gipsy dalam situs musik yang dibangunnya. Bahkan sebuah newsletter di AS menulis bahwa Guruh Gipsy adalah album rock progresif yang berpengaruh di Asia. Keenan Nasution hampir tidak percaya ketika tahu bahwa banyak orang asing yang meminati album Guruh Gipsy, yang ketika dirilis dulu dicetak sebanyak 5.000 kaset beserta buklet pengantar yang terdiri atas 32 halaman.

Tapi ternyata banyak kolektor dunia yang tergila gila dengan album Guruh Gipsy.Di tahun 2006 Shadoks Record label kecil yang menetap di Jerman merilis album Guruh Gipsy dalam format piringan hitam tanpa seizin Guruh Gipsy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s