Ketika Chicha Koeswoyo Melambung Dengan Lagu Anak-Anak “Helly”

Piringan Hitam "Helly" - Chicha Koeswoyo rilisan Yukawi Tahun 1975 (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam “Helly” – Chicha Koeswoyo rilisan Yukawi Tahun 1975 (Foto Denny Sakrie)

38 tahun silam,saat saya masih duduk di bangku kelas 6 SD.Hampir tiap hari terdengar suara bocah perempuan bernyanyi di radio-radio swasta, Artikulasinya jelas dan bening,jangkauan nadanya tinggi.Dia dalah Chicha Koeswoyo,puteri pertama Nomo Koeswoyo,mantan drummer Koes Bersauadara yang saat itu tengah asyik mengelola No Koes,grupnya sendiri yang mencoba membayangi Koes Plus.Disamping itu,Nomo yang bernama asli Koesnomo Koeswoyo itu pun berada dijajaran penting perusahaan rekaman milik A Cet atau Darmawan yaitu Yukawi yang bermarkas di Bogor.Naluri bisnisnyalah yang akhirnya menempatkan Nomo di posisi penting Yukawi.Intuisi bisnis dan musiknya juga yang berhasil mengendus talenta sang anak,yang saat itu juga sudah ikut kursus ballet.
Dan hampir semua radio memutar lagu “Helly” yang ditulis Nomo Koeswoyo.Chicha seperti memercikkan pesona luar biasa terhadap khalayak terutama anak-anak kecil  :

Aku punya anjing kecil
Kuberi nama Helly
Dia senang bermain main
Sambil berlari
Helly….kemari
Ayo lari lari.

Fokus pun tertuju ke sosok Chicha yang imut dan bikin gemes siapa saja.
Komentar dari para ahli musik pun banyak terlontar termasuk Bu Fat pengasuh acara “Ayo Menyanyi” di TVRI seperti  yang ditulis oleh majalah Tempo edisi Mei 1976 :
“Suara Chicha masih asli, dia tidak mencuri harga nada. Ia tidak banyak menggunakan variasi, lirik-liriknya sederana, sehingga anak-anak gampang menerimanya”, kata ibu ini yang pada pokoknya memang mau mengatakan bahwa Chicha dengan Hellinya itu memang bagus.
A Mahmud,komposer lagu anak-anak pun angkat bicara :” “Sebuah lagu akan digemari anak-anak, apabila setelah mendengar lagunya tubuh si anak akan ikut bergerak”, kata Mahmud. Pandangan ini menyebabkan ia mengambil tiga faktor utama dalam lagu anak-anak: bisa didengar, iringan musik yang memungkinkan anak-anak bergerak dan aransemen yang tidak terlalu rumit. Ketiga faktor ini dianggap ada dalam album Chicha. “Hanya saja dalam kedua album itu iringannya terlalu ramai. Kalau bisa disederhanakan akan lebih baik hasilnya”, ujar AT Mahmud.Album Chicha yang pertama berisi 11 buah lagu: Helli, Kelinciku, Perhitung, Sepasang Burung, Dang-dang tut, Loncengku, Si Gendut, Nasehat Ibu, Hompimpa, Ke Rumah Paman, Tarik Tambang. Adanya selang-seling yang jelas antara lagu yang iramanya cepat dengan yang iramanya lebih santai, menyebabkan lagu-lagu itu memperoleh posisi yang baik untuk sama-sama menonjol.
Kesederhanaan liriknya, kesederhanaan lagunya, memungkinkan banyak pengulangan tanpa ada perasaan bosan. Lagu semacam Helli atau Dang-dang tut misalnya, bisa dinyanyikan tak putus-putusnya. Lagu-lagu ini seperti diikuti oleh gerak yang mengasyikkan. Lagu ini penuh dengan isi jiwa anak-anak itu sendui, seakan-akan dia langsung dilemparkan dari hati Chicha, meskipun yang menulisnya adalah No Koes. Dengan pukulan-pukulan drum yang hidup dan segar, serta juga suara bas yang tidak mengekang dirinya dalam bervariasi, album ini jadi segar. Apalagi Chicha tampaknya memiliki temperamen seorang yang praktis dan enerjik, sehingga suaranya menjadi netral sekali, tidak menyebabkan kita mengusutnya apa dia gadis kecil atau anak lanang. Lagu-lagu yang tanpa pretensi itu dibawakannya dengan tanpa memulus-muluskan suara, akan tetapi dengan intensitas yang mantap dan stamina yang terjaga ketat sampai lagu terakhir. Lagu Loncengku misalnya yang menampilkan suasana anak-anak bersekolah, ada menyarankan nasehat, tapi tidak terlalu kentara. Ada sesuatu yang bertenaga, praktis, ada suasana yang jauh dari menghiba-hiba, ada ketegasan dan kegairahan dalam suara Chicha. Ini bisa membuat kita berpikir kembali, bahwa potret dunia anak-anak sebagaimana terpantul dari lagu-lagu ciptaan Pak Kasur misalnya sudah harus direvisi. Siapa tahu justru inilah faktor yang terbesar rahasia kelarisan Chicha. Karena kalau kita benar-benar menelaahnya, tidak ada sesuatu yang benar-benar luar biasa dari anak kecil ini yang mungkin tak lama lagi akan terlalu cepat dewasa lantas dicampakkan oleh publiknya sendiri. Itulah yang ditulis majalah Tempo Mei 1976.Bahkan sampul depan Tempo dihiasi sketsa wajah Chicha Koeswoyo.
Dan kini ,38 tahun kemudian,hampir tak ada lagi penyanyi cilik yang berkibar sosoknya seperti Chicha Koeswoyo di masa lalu .Penyanyi anak-anak memang selalu ada.Tapi ironisnya mereka justeru menyanyikan lagu lagu pop milik orang dewasa dengan lirik yang rasanya tak pantas mereka senandungkan.
Pentas Idola Cilik  yang digelar sebuah TV Swasta misalnya hampir menjadi ajang para penyanyi cilik berpenampilan seperti orang dewasa.Bertutur tentang cinta,cinta ditolak,hingga perselingkuhan.Ah……miris banget.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s