Tjitjiek Soewarno Yang Terlupakan

Apakah anda pernah mendengar nama Tjitjiek Soewarno ? Boleh jadi mungkin hanya segelintir orang saja yang mengenal dan mengetahui siapa itu Tjitjiek Soewarno, penyanyi cantik bersuara merdu.

Entah kenapa sosok Tjitjiek Soewarno ini seolah tenggelam dibanding nama-nama seperti Lilis Surjani,Tutty Soebardjo maupun Diah Iskandar yang dulu kerap dijuluki Connie Francis Indonesia.

Piringan Hitam EP Tjitjiek Soewarno

Piringan Hitam EP Tjitjiek Soewarno

Tjitjiek Soewarna selalu lekat dengan band pengiring Zaenal Combo pimpinan . Zaenal Arifien  terutama lewat lewat EP (Extended Play) format 7 inch  bertajuk “Yoshida” karya Asmoengin produksi Remaco  di tahun 1965 serta  tiga lagu lainnya, “Terlena di Senja Indah” (karya Sugiarto), “Kota Jakarta”, dan “Di Mana” (karya Harry. Soewarno).
Penyanyi wanita asal Yogyakarta kelahiran  18 Oktober 1945 inimemulai karirnya lewat  lagu “Terpaut di Jogya”  karya penulis lagu asal Bali Wedhasmara) yang diambil dari album “Sebiduk di Sungai Musi” karya Zaenal Arifien. Ternyata lagu ini justru lebih populer  dibanding “Selamat Jalan Kawan” maupun lagu karya Neneng Salmiah (“Malam Tiada Bintang” dan “Hampa”.

Ketenaran  Tjitjiek Soewarno bahkan melesat jauh diatas sederet  penyanyi seangkatannya  seperti Neneng Salmiah, Retno, Lena, Finny Rosita, Shinta Dungga, serta Tutty Thaher.Teruatama ketika “Remaco” merilis piringan hitam kompilasi“Aneka 12”.

Dan inilah liner notes EP Tjitjiek Soewarno yang ditulis Freddy Iroth dari Remaco :

Beraneka warna pengalaman para penjanji kita dalam perdjoangannja untuk mentjapai ketenaran.
Tidak selamanja menjenangkan, tapi pula tidak seluruhnja memedihkan.
Begitu pula halnja dengan biduanita jang kini ingin kami perkanalkan kepada Anda:

TJITJIK SOEWARNO

jang mungkin ada jang belum pernah dengar nama dan suaranja. Pada hal Tjitjik Soewarno sering mengikuti pemilihan Bintang Radio Daerah di Semarang dalam tahun 1960 hingga tahun 1963, dalam djenis seriosa. Namun sajang sekali, ia hanja dapat keluar sebagai djuara ke II dan ke III pada waktu itu.

Di Djokja, pada tahun 1964 ia pun pernah mengikuti pemilihan Bintang Radio Daerah dalam djenis Krontjong, dan untuk djenis ini ia hanja dapat keluar sebagai djuara harapan.

Disamping itu, Tjitjik Soewarno dalam siaran RRI di Semarang, Djokja dan Surabaja atjapkali menghibur masjarakat setempat dengan iringan orkes studio RRI atau lain2nja. Itulah sekelumit dari sekian banjak pengalaman2 Tjitjik Soewarno dalam bidang seni suara.

Dan untuk lebih menikmati alunan suara lintjah dan merdu dari biduanita ini, melalui EP ini kami hidangkan lagu2:

1. YOSHIDA,
2. TERLENA DISENDJA INDAH,
3. DIMANA.

Sebagai selingan Zaenal Combo menghibur Anda pula dalam sebuah lagu instrumental, jaitu:

4. KOTA DJAKARTA.

Sebagai ¬penutup kata kami harapkan:
Muntjulnja Tjitjip Soewarno dengan iringan orkes Zaenal Combo dalam EP ini semoga dapat memuaskan selera dan melipur Anda sekeluarga.

Ferry Iroth.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s