Ketika Musik Marcell Thee Larut Dalam Vinyl

Menurut saya,sebagai seorang pemusik apalagi seorang singer/songwriter,tak ada yang istimewa dari Marcell Thee,jika anda berkesempatan bertemu dengannya.Sosoknya sangat bersahaja.Dimata saya,Marcell sering bersikap canggung.Tapi setelah ngobrol dengannya sedikit demi sedikit terkuak visi dan jatidirinya. Saya pertamakali mengenal Marcell saat dia bersama bandnya yang bernama Sajama Cut bertandang di studio Pendulum di bilangan Jalan Brawijaya Jakarta Selatan sekitar tahun 2005 .David Tarigan yang memperkenalkna n saya dengan Marcell. Saat itu saya sudah menyimak album Sajama Cut yang bertajuk The Osaka Journal.Saya tak menyangka bahwa Marcel Thee otak dari Sajama Cut dengan lirik-lirik menohok terlihat bagai orang biasa.Tak ada sedikitpun kesan bahwa dia adalah pemusik yang memiliki segudang gagasan dan wawasan dalam bermusik. Selanjutnya saya justeru mengenal Marcell dari bidang yang lain ketika dia menghubungi saya untuk mewawancarai saya sehubungan dengan penyelenggaraan event Indonesia Cutting Edge Music Award 2010.Wow ternyata Marcell bekerja untuk sebuah surat kabar berbahasa Inggeris. Di negera ini perihal pemusik yang juga bekerja sebagai wartawan bukanlah hal baru. Contohnya Wage Rudolf Supratman selain sebagai pemusik yang menulis lagu Indonesia Raya juga dikenal sebagai seorang wartawan yang bekerja di berbagai media cetak mulai dari Koran Kaoem Moeda di Bandung hingga Koran Sin Po di Jakarta. Beberapa kali Marcell mewawancarai saya untuk media tempatnya bekerja mulai dari soal soundtrack film hingga stand up comedy. Walau hanya berkomunikasi lewat internet dan Blackberry saya dan Marcell sering bertukar pikiran.Saya memang jarang ketemu dia,padahal rumah Marcell dan saya berada di wilayah yang sama. Setelah di tahun 2010 silam Marcell meminta testimoni saya untuk album Sajama Cut “Manimal”, kemudian ditahun 2012 Marcell Thee meminta kesediaan saya untuk membuat liner note untuk debut album solonya bertajuk “With Strong Hounds Three” yang dirilis dalam bentuk CD. Kembali saya kaget.Kenapa Marcell bikin album solo ? Bukankah Sajama Cut itu merupakan album solo Marcell yang digarap bersama kerabat kerabatnya ? 12 lagu karya Marcell pun saya simak.Tampaknya Marcell melakukan solo dalam arti sesungguhnya.Dia bikin lagu dan menulis lirik.Dia bikin arransemen musik dan sekaligus memainkan semua instrumennya.”Dengan kemampuan musik yang pas-pasan saya memainkan seluruh instrumentasi di album ini” urai Marcell suatu ketika. Awalnya dia memainkan gitar kemudian Marcell banyak bereksplorasi dengan menggunakan i-Mac hadiah dari sang isteri yang memfasilitasi software Garage Band.Jadilah Marcell seorang multi-instrumentalis mendadak. Atmosfer pertama yang mencuat dari benak saya saat menyimak lagu “Endless Heart”,”Like Dead Horses” maupun “Seaside Worship” adalah sebuah pengungkapan music worship yang berlumur nuansa gerejani.Ada tiruan bunyi orgel yang sakral.

Bahkan Marcel dengan menggunakan multi layered mengubah tone vokalnya menjadi sebuah choir yang ritualistik.Sentuhan folkie era 60an berserakan dalam serpihan serpihan kedua belas lagu yang termaktub di album ini.Marcell seolah tengah melakukan jamming dengan John Lennon with Plastic Ono Band dan The Flaming Lips yang dihadiri The Beach Boys dalam sebuah ritual yang merefleksikan riak-riak kehidupan. Lirik liriknya yang bernas memang bisa ditafsirkan dalam sudut pandang apapun.”Saya tak keberatan jika interpretasi yang mendengarkan karya saya pemahamannya berbeda dengan apa yang sebetulnya saya maksudkan” ungkap Marcell terkekeh. Lirik lagu “Endless Heart” dibawah ini boleh jadi memiliki makna ganda tergantung dari angle yang mana kita memandang : Across these coasts and a fired up light I rented a bridge and called it a name Divine Dan sekali lagi Marcell berhasil merampok perhatian pendengar lewat barisan lirik lagunya yang dalam dan maknawi.Marcell mengakui banyak terpengaruh dengan pola penulisan puisi dari William Butler Yeats,penyair,dramawan dan prosais Irlandia yang memenangkan Hadiah Nobel untuk bidang Sastra. Saking kagumnya terhadap karya William Butler Yeats,Marcell mengabadikan penggalan puisi Yeats :” We rode in sorrow, with strong hounds three “ menjadi judul album solonya “With Strong Hounds Three”. Penggalan lainnya bahkan dijadikan lagu “We Rode In Sorrow” Singkatnya,Marcell ingin membuat miniatur kehidupan dalam gumpalan gumpalan lirik yang dibaluti melodi lagu yang cenderung kontemplatif. Sebagai pemusik,Marcell pun ingin membagi cerita tentang kehidupan. Kini di tahun 2014 Marcell kembali berkirim kabar ke saya bahwa album With Strong Hounds Three akan dirilis dalam bentuk vinyl atau piringan hitam. “Suatu hari saya ditantang Agus Susanto,pemilik kios Warung Musik di Blok M untuk merilis album solo saya dalam bentuk vinyl” kisah Marcell. Marcell tersentak,apalagi ternyata Agus yang sehari-hari berdagang vinyl,kaset dan CD di basement Blok M Square itu ternyata telah mendirikan label dengan nama Majemuk Records yang bekerja sama dengan Jason Connoy,orang Kanada pemilik label Strawberry Rains yang selama ini kerap bekerjasama dengan Agus saat mereissue album-album Indonesia legendaris seperti AKA,Benny Soebardja dan Kelompok Kampungan. “Baik Agus maupun Jason tertarik untuk merilis album-album Indonesia masa kini.Mereka malah memilih album solo saya untuk dirilis secara internasional” cerita Marcell panjang lebar. Ditengah tren back to vinyl yang merebak,Marcell Thee menyambut baik reissue album solonya With Strong Hounds Three dalm bentuk vinyl.”saya sudah lama jatuh cinta dengan bunyi-bunyian yang keluar dari vinyl.Ayah saya memiliki setumpuk vinyl di rumah.Saya kira vinyl menawarkan sound yang natural,apa adanya dan terasa lively” ungkap Marcell. Bagi saya sendiri sentuhan musik Marcell Thee yang kuat sentuhan personalnya memang tepat didengar dalam format vinyl.Marcell seolah tengah bermain musik dan bernyanyi tepat dihadapan kita.Tidak percaya ? Segeralah putar album Marcell Thee.

MT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s